Minggu, 11 November 2012

In The Doldrums

Kekeliruan kecil sore itu membuat mereka saling menenangkan diri. Sepanjang perjalanan, gadis itu terdiam, sesekali hanya menampakkan senyum saat sang kekasih menyapa lirih. Ia merasakan erat jemari yang sedang menggenggamnya. Hangat.

"Ada apa?"
"Hmm..tidak ada apa-apa" gadis itu menyangkali.
"Ayolah. Katakan saja. Aku ingin tahu" kekasihnya meyakinkan.
"Aku masih ingin bersamamu"
"Maaf. Ini salahku. Tapi tenanglah. Kita pernah melewatinya bukan?"
"Ya. Namun ini berbeda"
"Tak usah khawatir. Ini takkan lama. Aku akan segera kembali, sayang"
 
Pandangan punggung itu berjalan menjauh, memaksanya menepi mobil yang ia kemudikan. Gadis itu tak kuasa menahan. Tangisnya memuncak. Sang kekasih kembali menghampiri, kembali menenangkan gadis kecilnya. "Baik-baik ya." Gadis itu memberi anggukan. "Hati-hati. Aku menyayangimu." Nafasnya tak beraturan. Dari sepasang mata letihnya, bulir-bulir bening terus mengalir. Gadis itu pun berlalu. Dengan benak yang masih terpaku. Oh, kelabu.

Jumat, 09 November 2012

Sebatas Tawa

Selamat siang. Terik mentari sama sekali tak terasa hangatnya. Ia berada tepat di atas kepala -ku, -mu, dan -nya. Demi apapun, ini sungguh memaksa kami mencari titik kesejukan. Kami sudah mengambil posisi termanis di tempat ini. Anggap saja numpang ngadem (hohoho). Chocolate grande-ku melumer, merembes masuk, membasahi larynxAku masih sibuk merangkai kata, mereka pun masih mengabadikan momen-momen. Seakan waktu tanpa batas, kita masih tertawa di sini, terangkum dalam satu rasa walau tanpa asa :)


  *Coffee Toffee Urip, November 9th, 3.00pm.

Senin, 05 November 2012

Kinetik feat Melanie Subono - Generasi Menolak Lupa


Phantasmgoria

Siang yang mendung ini, kita sedang berada di salah satu tempat kecil yang nyaman dan sangat tenang. Sebut saja warung, kafe atau kios. Apa saja lah. Di sini tak ada hiruk-pikuk, tak ada kebisingan, tak ada polusi apalagi korupsi (ya iyalaaaaah). Di sini hanya ada kita (yang lain ngontrak), dua cangkir teh hangat, buku-buku dan benda mati lainnya. Kita duduk saling berhadapan. Senyummu hangat sekali. Seperti teh yang ku sesap ini. Tatapanmu tak tajam dan tentu tak menakutkan. Aku suka sekali kedua bola mata yang menatapku itu. Aku bisa melihat jelas siluet ku yang juga sedang menatapimu. Hening kita pecah. Kau memulai percakapan. Kau mengajakku berbicara tentang segalanya. Kau mengajariku berbagai macam hal, yang sudah sangat ku kenali bahkan hal yang tak ku ketahui sebelumnya. Kita membicarakan semuanya. Kita berbagi dan terus berbagi. Aku jadi ingat kutipan di kolom bawah blog mu, "kebahagiaan hanya berarti jika dibagi". Dan di sinilah makna kebahagiaan itu.
Ini sangat menyenangkan, sayang.


.........5menit kemudian.........


Brukkk!
Aku terjatuh dari kursi tak bersandar itu. Ada apa ini? Hah! Ternyata kantuk menguasaiku. Dan siang yang menyenangkan itu hanya ada di alam bawah sadarku. Damn >.<

Keane - Disconnected

Somethings crept in under our door
Silence soaking through the floor
Pinching like a stone in my shoe
Some chemical that's breaking down the glue
That's been biding me to you

I feel like I just don't know you anymore
But iv'e been burned and iv'e been wrong so many times
We walk in circles, the blind leading the blind

Well I thought that love watched over this house
But your boarding up the windows now
We've been leaning on each other so hard
Tied so tight we wound up miles apart
Making simple things so hard

We've been disconnected somehow
There's an invisible wall between us now
But iv'e been wrong and iv'e been down so many times
We walk in circles the blind leading the blind

I see the landscape change before my eyes
The features iv'e been navigating by
No nothing looks the way it did before
I don't know where to look, or what to look for


"Lagunya galau sekali. Tidak sedang dalam kondisi itu sih. Tapi senang mendengarkannya :)"

Platitude #1

Selamat datang November.
Hanya hasrat. Tidak ada unsur apa-apa kalimat penyambutan ini mewarnai blogku yang hampa.
*rewindmodeon*
Aku masih ingat jelas. Hari-hariku di bulan November setahun yang lalu. Hari-hari di Sastra masih dengan berbagai macam label mahasiswa baru yang kugunakan. Bahkan sampai akhir detik menyambut Desember, masih sangat jelas, bagaimana campur aduknya kehidupanku di bulan itu. Hah. Aku sungguh menikmatinya. Dan ini tidak bohong :D :P

Dan lihatlah....

Dan lihatlah....
Lelakimu beranjak pergi. Meninggalkan sekotak jejak, juga kenangan. Melupakan semua rasa, pula asa. Baru saja memutuskan untuk tak terlibat. Enggan terikat, mengikat ataupun diikat. Alam menganggapnya penjara. Hati merangkumnya kata. Lalu kemudian menyendiri. Duduk diam menyepi. Tunduk kaku meresapi. Apa yang salah dengan ini, batinnya.